Iffah elfrida (1), Hesty Widowati (2), Nurul Azizah (3), SM. Faridah Hanum (4)
General Background: Early antenatal care attendance (K1) is a key indicator of maternal health service utilization and program outreach. Specific Background: Despite national targets, K1 coverage at Balongsari Health Center remains below the expected standard, indicating persistent challenges in early pregnancy monitoring. Knowledge Gap: Limited local evidence explains how maternal characteristics shape the type and timing of first antenatal visits. Aim: This study examined the relationships between maternal age, parity, and education level with K1 visit patterns among pregnant women. Results: Using a cross-sectional design involving 164 pregnant women, chi-square analysis revealed significant associations between age, parity, and education level with K1 visit categories (pure K1 vs. access K1). Women aged 20–35 years and those with higher education were more likely to attend pure K1 visits, while multiparous and lower-educated women predominantly accessed K1 beyond the first trimester. Novelty: This study highlights distinct maternal profile patterns linked to delayed or timely first antenatal contact at the primary healthcare level. Implications: The findings underscore the need for targeted maternal health education and outreach strategies focusing on high-risk age groups, multiparous women, and those with lower educational backgrounds to optimize early antenatal care coverage.
Maternal age and education align with timely first antenatal visits.
Multiparity is linked to delayed initial ANC contact.
K1 coverage gaps persist at the community health center level.
Pregnant Women; K1 Visits; Maternal Age; Parity; Education Level
Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang ditetapkan. Istilah “kunjungan” di sini tidak berarti bahwa seorang ibu hamil pergi ke fasilitas kesehatan, tetapi setiap kontak yang dilakukan oleh petugas kesehatan (di posyandu, di klinik bersalin desa, di rumah) dengan seorang ibu hamil untuk memberikan pelayanan antenatal standar dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil. Salah satunya masalah rendahnya cakupan kehamilan adalah pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan Kunjungan baru ibu hamil (K1) adalah kunjungan ibu yang pertama kali pada masa kehamilan. K1 murni adalah kontak ibu hamil pertama kali dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standart dan dilakukan pada trimester 1. K1 akses adalah kontak pertama ibu hamil dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart dan dilakukan bukan trimester 1 (usia kehamilan lebih 12 minggu).Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC komprehensif yang berkualitas minimal empat kali yaitu satu kali pada trimester pertama (usia kehamian 13 minggu), satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 14-28 minggu) dan dua kali pada trimester ketiga usia kehamilan 28-36 minggu dan setelah 36 minggu. Bagi program pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak, K1 merupakan indikator pemantauan yang dipergunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta kemampuan program dalam menggerakan masyarakat
Kenyataannya, tidak semua ibu melakukan kunjungan kehamilan, menurut Data kesehatan Indonesia tahun 2016 menunjukkan bahwa cakupan K-1 di Indonesia bervariasi antara tahun 2011 - 2014. Di Indonesia, cakupan K1 mencapai 88,27% pada tahun 2011 dan meningkat 1,91% pada tahun 2012 menjadi 90,18%. Di sisi lain, cakupan K1 menurun menjadi 86,85% pada tahun 2013. Namun demikian, cakupan K1 masih belum mencapai target 93% yang ditetapkan dalam rencana strategis . Cakupan kunjungan K1 untuk ibu hamil di Jawa Timur adalah 98,02% pada tahun 2017, menurut profil kesehatan provinsi.. Dari perkembangan capaian K1 dari 2019 hingga 2022 mengalami penurunan yakni 100,6% menjadi 98,2 % , Namun untuk Cakupan K1 di Kota Surabaya masih sebesar 95,41% dan masih jauh dari SPM (Standar Pelayanan Minimal) Surabaya dengan target nasional sebesar 100%., Indikator laporan PWS KIA 2022 menunjukkan bahwa kunjungan ibu hamil K1 di Puskesmas Balongsari masih 83,45% dari 542 target ibu hamil di wilayah Tandes.
Karakteristik ibu (usia, paritas, pendidikan dan profesi) dan faktor pendukung (sosial, ekonomi, dukungan keluarga, ketersediaan waktu dan fasilitas sanitasi) serta faktor pendukung (sikap petugas) merupakan faktor yang mempengaruhi kunjungan kehamilan. Usia ibu dapat mempengaruhi kunjungan kehamilan. Semakin tinggi usia, maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan semakin matang dalam berpikir, sehingga dengan usia yang cukup (tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda) akan membuat ibu dapat memikirkan dengan matang kebutuhannya. Salah satunya adalah memeriksakan kehamilannya. Pendidikan juga berdampak pada kunjungan kehamilan, karena semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi dan semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. Pemahaman akan nilai-nilai yang baru diperkenalkan, termasuk pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur dengan tenaga kesehatan, akan dipengaruhi oleh kurangnya pendidikan.
Dengan upaya ibu hamil bisa mencegah resiko kehamilan maka upaya kunjungan ibu harus terpenuhi untuk memantau kehamilan mereka selama trimester pertama karena ini adalah saat sistem dan organ janin terbentuk dan berkembang dengan cepat, sehingga berisiko tinggi mengalami cacat bawaan.Berdasarkan penjelasan di atas maka dilakukan penelitian yang berjudul faktor- faktor yang berhubungan dengan kunjungan K1 pada ibu hamil di Puskesmas Balongsari.
Desain penelitian ini menggunakan analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 164 ibu hamil yang menjalani pemeriksaan kehamilan. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Balongsari pada bulan Januari- Agustus 2024 dengan menggunakan variable independent usia , paritas,tingkat pendidikan, serta variable dependent adalah kunjungan K1 ibu hamil. Teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling yaitu dengan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan kriteria inklusi dari pengumpulan Instrument data sekunder pws kia. Analisa data menggunakan uji statistik Chi-Squaredengan p value (0,05) secara komputerisasi program SPSSv.29.
Hasil penelitian ini dilakukan di Puskesmas Balongsari Surabaya yang berjumlah 164 orang.
Tabel 1. Menunjukkan bahwa sebagian besar (89%) ibu hamil di Puskesmas Balongsari Surabaya berusia 20-35 tahun. Karakteristik ibu hamil bedasarkan paritas sebagian besar (57,3%) adalah multipara sebanyak 94 ibu hamil. Sedangkan karakteristik ibu hamil bedasarkan tingkat Pendidikan, sebagian besar (56,1%) berpendidikan rendah atau pendidikan terakhirnya SD/SMP/SMA. Dari seluruh kunjungan K1 didapatkan K1 akses lebih besar presentasenya dengan ibu hamil sebanyak 86 (51,8%).
Tabel 2. Menunjukkan bahwa presentase yang melakukan Kunjungan K1 ibu hamil pada usia 20- 35 tahun (resiko rendah) lebih banyak K1 murni (51,4%) 75 ibu hamil. Sedangkan ibu hamil yang melakukan kunjungan K1 pada usia ≤20 tahun - ≥35 tahun (resiko tinggi) lebih banyak (78%) sebanyak 14 ibu hamil. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p value sebesar 0,02 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan kunjungan K1
Sebagian besar presentase yang melakukan kunjungan K1 ibu hamil dengan primipara lebih banyak pada K1 murni (64%) sebanyak 64 ibu hamil , sedangkan sebagian besar kunjungan K1 ibu hamil dengan multipara lebih banyak pada K1 Akses (68%) sebanyak 60 ibu hamil . Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p value sebesar 0,00 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara paritas ibu dan jenis kunjungan K1.
Ibu hamil yang melakukan kunjungan K1 ibu hamil dengan Pendidikan rendah (Tidak sekolah- SLTP/ Sederajat- SLTA) dengan presentase lebih banyak pada K1 Akes (69,5%)sebanyak 64ibu hamil. Sedangkan kunjungan K1 murni pada tingkat Pendidikan tinggi lebih banyak pada K1 Murni sebanyak 70,9% sebanak 51 ibu hamil.Hasil Uji chi-square menghasilkan nilai p value sebesar 0,00 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan jenis kunjungan K1.
Bedasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa salah satu faktor kunjungan ibu hamil di Puskesmas Balongsari paling banyak melakukan kontak pertama kali dengan tenaga Kesehatan adalah ibu hamil K1 murni pada 20 tahun- 35 tahun. Hasil penelitian paralel menunjukkan bahwa jumlah kunjungan K1 oleh ibu hamil pada usia ini terutama disebabkan oleh faktor usia, karena ibu hamil memahami faktor risiko kehamilan yang tinggi, sehingga kemungkinan besar para ibu memikirkan sikap, perilaku atau strategi untuk mencegah, menghindari atau mengatasi masalah risiko kehamilan. Dan ibu memiliki kesadaran untuk melakukan kunjungan antenatal untuk memeriksa kehamilanya, sehingga apabila terjadi resiko pada masa kehamilan tersebut dapat ditangani dengan tepat oleh tenaga kesehatanUsia memengaruhi pola pikir seseorang. Ibu dengan usia produktif (20-35 tahun) dapat berfikir lebih rasional dibandingkan dengan ibu dengan usia yang lebih muda atau terlalu tua. Sehingga ibu dengan usia produktif memiliki motivasi lebih dalam memeriksakan kehamilannya. Ibu hamil di bawah usia 20 tahun menghadapi peningkatan risiko karena organ reproduksi yang belum matang, sementara ibu hamil yang berusia di atas 35 tahun mengalami perubahan degeneratif yang memengaruhi hasil kehamilan.
Dari hasil penelitian kunjungan K1 pada ibu hamil Sebagian besar didapatkan oleh K1 akses pada ibu hamil multipara atau ibu hamil yang pernah melahirkan beberapa kali karena Ibu hamil dengan Multipara pasti lebih memperhatikan kehamilannya karena mereka sudah berpengalaman dan setiap kehamilan, ibu multipara merasa kondisinya akan berbeda beda.Ibu multipara sangat mempengaruhi kunjungan K1, karena pengalaman kehamilan sebelumnya atau kelahiran yang mampu mendorong serta mempengaruhi perilaku manusia dalam melakukan sesuatu. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan, informasi dan pemahaman yang baik dari ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.
Pada ibu hamil K1 murni dengan Pendidikan rendah cenderung lebih banyak yang melakukan kunjungan K1. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu hamil yang mengunjungi K1 di Puskesmas Balongsari. Tingkat Pendidikan dari ibu yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu. Tentang kesehatan termasuk didalamnya tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Demikian juga dengan ibu hamil yang tidak mengalami atau memperoleh Pendidikan akan berakibat pada kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilannya tersebut. Menurut penelitian Notoatmodjo Tingkat pendidikan tentang kunjungan hamil dipengaruhi oleh faktor umur, pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan informasi. Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental), disertai dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah dapat mempengaruhi penerimaan informasi baru. Tingkat Pendidikan ibu hamil yang rendah akan lebih sedikit mengetahui informasi tentang kehamilan, perawatan antenatal dan kesehatan reproduksi secara umum dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pada kunjungan hamil mereka untuk mencari perawatan antenatal. Dengan rendahnya tingkat pendidikan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelayanan antenatal dan mendorong ibu hamil untuk mengunjungi pusat kesehatan secara teratur. Tingkat pendidikan yang tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian menentukan pilihan dalam pelayanan, Namun sebaliknya Menurut saidpada kunjugan ibu hamil K1 pada tingkat Pendidikan tinggi dipuskesmas tidak dilihat karena mereka mengganggap bahwa puskesmas masih banyak pelayanan dan sumber daya manusia yang kurang sehingga mereka lebih nyaman melakukan kunjungan antenatal di provider swasta. Asumsi pada pendidikan tinggi bahwa citra puskesmas hanyalah untuk keluarga miskin, ekonomi bawah atau mereka yang berpendidikan rendah.
Hasil kesimpulan tersebut bahwa adanya hubungan antara umur, paritas dan tingkat Pendidikan dengan kunjungan K1 di puskesmas balongsari. Dengan keterbatasan peneliti dalam memantau kunjungan K1 ibu hamil. Diharapkan peneliti untuk memberikan edukasi kepada ibu hamil sehingga dapat meningkatkan upaya kunjungan ibu hamil K1 agar mencegah resiko kehamilan sejak awal kehamilan serta meningkatkan cakupan kunjungan K1
Peneliti mengucapkan banyak rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT atas berkat, rahmat, karunia serta nikmat-Nya yang telah memberikan kelancaran dan kemudahan dalam penelitian ini, kedua kalinya peneliti juga terimakasih kepada puskesmas balongsari yang memberikan izin untuk melakukan penelitian. Peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam memberikan dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
[1] H. Humune, “Factors Affecting First Antenatal Visit (K1) Based on Age, Education, and Socio-Cultural Aspects,” Midwifery Journal of Akbid Griya Husada Surabaya, vol. 4, no. 2, pp. 1–7, 2017.
[2] M. S. Daryanti, “Parity Associated with Antenatal Care Examination among Pregnant Women at Independent Midwifery Practices in Yogyakarta,” Jurnal Kebidanan, vol. 8, no. 1, pp. 56–60, 2019, doi: 10.26714/jk.8.1.2019.56-60.
[3] Ministry of Health of the Republic of Indonesia, Indonesia Health Profile 2017, Jakarta: MoH RI, 2017.
[4] R. P. Y. Siwi and H. Saputro, “Analysis of Factors Related to Low Integrated Antenatal Care Visits among Pregnant Women in Sukodono Health Center, Lumajang,” Journal for Quality in Women’s Health, vol. 3, no. 1, pp. 22–30, 2020, doi: 10.30994/jqwh.v3i1.45.
[5] A. Pangastuti, “Correlation between Antenatal Care Coverage and Iron Tablet Distribution with Anemia Prevalence in Pregnancy in East Java,” RECODE, vol. 3, no. 2, pp. 70–78, 2020.
[6] R. Damayanti, W. T. Mutika, D. P. Astuti, and N. Novriyanti, “Factors Affecting First Antenatal Visit (K1) among Pregnant Women,” Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal, vol. 13, no. 2, pp. 73–80, 2022, doi: 10.51888/phj.v13i2.138.
[7] K. Budiarti, “Factors Associated with Antenatal Visits among Pregnant Women during the COVID-19 Pandemic at Kampung Bali Health Center,” 2021.
[8] M. N. Humairoh, P. A. Kusumawardani, and R. Rosyidah, “Factors Associated with Antenatal Care Regularity,” Jurnal Kebidanan Midwiferia, vol. 7, no. 2, pp. 77–84, 2021, doi: 10.21070/midwiferia.v7i2.1632.
[9] R. A. E. Putri, “Maternal Nutrition and Pregnancy Outcomes,” Medic Nutricia, vol. 4, no. 1, pp. 1–6, 2024, doi: 10.5455/mnj.v1i2.644xa.
[10] W. M. P. Hutomo, “Parity and Antenatal Care Visits at Dum Health Center, Sorong Islands District,” Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, vol. 16, pp. 2302–2531, 2021.
[11] Fitriani, Handayani, and E. Lubis, “Relationship between Education Level and Maternal Age with Antenatal Care Compliance,” Binawan Student Journal, vol. 1, no. 3, pp. 113–117, 2019, doi: 10.54771/bsj.v1i3.580.
[12] S. Notoatmodjo, Health Education and Behavior, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
[13] I. Citrawati and N. Laksmi, “Relationship between Pregnant Women’s Knowledge of Antenatal Care and ANC Visits at Tampaksiring II Health Center,” Jurnal Keperawatan Sriwijaya, vol. 8, no. 2, pp. 19–26, 2021, doi: 10.32539/JKS.V8i2.15299.
[14] M. Jurnal Kebidanan et al., “Analysis of Pregnant Women’s Compliance with COVID-19 Health Protocols during Antenatal Care Visits,” Jurnal Kebidanan, vol. 8, no. 1, 2022, doi: 10.21070/midwiferia.v7i2.1637.
[15] M. H. L. Said and U. Sumanti, “Why Upper-Class Communities Do Not Choose Community Health Centers: A Case Study in Sleman,” Buletin Kesehatan Masyarakat, 2017, doi: 10.22146/bkm.25339.