Nurul Azizah (1), Mela Nailul Izza (2)
General Background The puerperal phase triggers significant physiological, psychological, and social transitions that require structured clinical monitoring to prevent severe maternal affective disorders. Specific Background Primiparous women exhibit heightened vulnerability to postpartum anxiety and depression compared to multiparous mothers due to childbirth unfamiliarity. Knowledge Gap However, maternal psychological adaptive patterns remain under-examined when complicated by unexpected infant clinical vulnerabilities that mandate specialized neonatal care. Aims This case study evaluates maternal postpartum anxiety triggered by newborn health complications in a 26-year-old primigravida. Results Psychometric screening using the Depression Anxiety Stress Scales confirmed mild anxiety (score: 8) caused by excessive cognitive overthinking, structural adaptation difficulties, and initial caregiving unfamiliarity. Novelty The evaluation demonstrates that immediate modification of external stressors, such as reducing social media consumption alongside active family support, effectively minimizes postpartum stress. Implications Midwives must provide comprehensive, continuous, and long-term psychosocial interventions to secure optimal maternal-infant health outcomes.
Periode nifas adalah waktu kritis bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk terus memantau ibu, dan pelaksanaan yang kurang optimal dapat menimbulkan berbagai permasalahan. Masa nifas merupakan masa penyembuhan sejak lahirnya plasenta dan selaput ketuban (menandai berakhirnya masa nifas) hingga organ reproduksi wanita akan kembali ke kondisi tidak hamil dan beradaptasi dengan kehadiran anggota baru. Masa nifas (pasca postpartum) berawal setelah plasenta keluar dan berakhir ketika organ rahim kembali pada kondisi sebelum hamil. Periode nifas berjalan kurang lebih enam minggu atau empat puluh dua hari. Tetapi biasanya pulih dalam kurun waktu tiga bulan. Wanita multipara mempunyai pengalaman menghadapi persalinan, sehingga bisa lebih pengertian dan nyaman. Untuk ibu yang mengalami kelahiran pertama kali, kehamilan dan persalinan bisa jadi merupakan suatu hal yang tidak pasti dan menakutkan, sehingga dapat menimbulkan kecemasan.
Kesalahan dalam pengasuhan bayi dapat terjadi di masyarakat karena kurangnya pengetahuan tentang perawatan bayi, pendidikan, dan masih buruknya kondisi sosial ekonomi. Melahirkan anak adalah anugerah terbesar yang diterima oleh seorang wanita dan merupakan momen yang sangat membahagiakan, namun seringkali wanita merasakan kesedihan dan ketakutan saat melahirkan, sehingga mempengaruhi emosi dan kepekaan anak, sehingga dalam beberapa kasus menjadi momen yang menakutkan, Hal ini dikarenakan wanita yang melahirkan seringkali mengalami kesedihan dan kecemasan yang mempengaruhi emosi dan kepekaan ibu dan dikenal dengan istilah postpartum blues. Ketakutan yang dialami adalah perasaan meningkatnya kerentanan emosional yang muncul saat mengalami kehamilan dan menjadi orang tua untuk pertama kalinya. Perasaan cemas dan depresi selama kehamilan merupakan hal yang umum terjadi pada ibu baru, namun bagi sebagian besar wanita, perasaan tersebut hanya bersifat sementara dan berkurang seiring berjalannya waktu.
Kehamilan dan persalinan merupakan masa-masa yang berpotensi menimbulkan stres dalam hidup. Wanita cenderung merasakan banyak stres saat hamil, melahirkan (nifas), dan karena kondisi fisik yang membatasi aktivitasnya. Dari segi psikologis, ibu nifas mengalami proses penyesuaian psikologis setelah melahirkan. Menjadi ibu dianggap sebagai pengalaman penting dan berharga, namun bagi sebagian wanita, masa nifas bisa menjadi periode sulit yang terkait dengan kecemasan. Meskipun kecemasan terkait peran sebagai ibu baru adalah normal dan bahkan adaptif, sebagian ibu mungkin mengalami tingkat kecemasan yang berlebihan dan merugikan.
Proses adaptasi psikologis ibu dimulai pada periode kehamilan. Seorang Ibu hamil biasanya mengalami perubahan psikologis nyata yang memerlukan penyesuaian. Perubahan suasana hati seperti sering menangis, mudah tersinggung, sering merasa sedih, lalu cepat berubah menjadi bahagia merupakan tanda-tanda ketidakstabilan emosi.Beberapa penulis menyatakan bahwa banyak wanita menunjukkan gejala kejiwaan pada minggu pertama setelah melahirkan, terutama gejala depresi ringan hingga berat dan gejala neurosis traumatis.
Kecemasan pascapersalinan dikaitkan dengan buruknya ikatan ibu-bayi, depresi pascapersalinan, penurunan kemungkinan menyusui, risiko lebih tinggi terjadinya kekerasan pada anak, keterlambatan perkembangan kognitif dan sosial pada bayi, serta peningkatan risiko kecemasan pada anak. Contohnya antara lain: rasa cemas berlebihan saat hamil, struktur pribadi masa lalu yang tidak normal, riwayat kejiwaan yang tidak normal, riwayat perkawinan yang tidak normal, riwayat obstetrik (ginekologi) yang tidak normal, riwayat lahir mati atau kelainan bawaan, riwayat penyakit lain,dan sebagainya, menunjukkan beberapa faktor yang berperan.
Tidak mengherankan jika para ibu memperhatikan sedikit perubahan perilaku dan terkadang menjadi gelisah. Ini adalah waktu yang rentan dan terbuka untuk kepemimpinan dan pembelajaran. Wanita pasca melahirkan banyak mengalami perubahan yang tidak hanya bersifat fisik, termasuk peningkatan emosi.
Jika tidak ada gejala yang signifikan, tidak ada pengobatan khusus untuk postpartum blues. Empati dan dukungan dari keluarga dan profesional medis sangat dibutuhkan. Jika gejalanya tidak mereda dalam waktu lebih dari dua minggu, sebaiknya mencari bantuan dari tenaga professional. Namun, jangan menganggap hal ini sebagai peristiwa yang tidak penting, karena keadaan ini bisa berkembang menjadi depresi pascapersalinan jika rasa sedih pascapersalinan tidak kunjung mereda. Jenis depresi pascapersalinan yang paling parah dapat menyebabkan psikosis pascapersalinan jika tidak ditangani dengan baik.
Metode pengambilan data dilakukan dengan menghubungi klien melalui via whats’up, kemudian diberikan kuesioner penilaian DASS 42 untuk mengetahui tingkat kecemasan. Setelah membaca hasil kuesioner, dilakukannya wawancara pendekatan untuk mengetahui tingkat kecemasan klien, kemudian dibahas dan penulis memberikan berikan intervensi.
Presentase Kasus
Study kasus ini mengambarkan bagaimana keadaan/kondisi psikis ibu nifas terhadap anak nya. Gambaran umum keadaan klien dalam study kasus ini bisa dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Gambaran Keadaan Klien
Pengkajian lebih lanjut terkait Ny.D mengalami kecemasan pasca postpartum, hal ini dibuktikan dengan form pertanyaan Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42). Gambaran kondisi psikis klien dalam study kasus ini bisa dilihat pada Gambar 1.
Figure 1.
Gambar 1. Gambaran Keadaan Psikis Klien
Depresi: 0, Stress: 7.Cemas: 8
Hasil pada Tabel 2 Ny. D mempunyai kecemasan ringan dengan nilai 8 pada skala penilaian. Ny.D mengaku harus berhati-hati karena kegelisahannya dipicu oleh sesuatu: terlalu memikirkan sesuatu dan tidak terbiasa merawat bayi.
Pembahasan
Momen kelahiran menjadi periode yang penuh kekhawatiran bagi seorang wanita yang baru pertama kali menjadi ibu, karena tugas menyusui dan merawat bayi menjadi prioritas. Perhatian neonatal yang adekuat setelah kelahiran memberikan manfaat signifikan, termasuk mempercepat pemulihan organ ibu yang mengalami perubahan selama kehamilan serta membangun ikatan kasih sayang antara ibu dan anak. Keadaan psikologis ibu setelah melahirkan merupakan masa yang agak sulit dan membingungkan, dan ketika pertama kali menjadi seorang ibu, sesuatu yang baru terjadi baik pada ibu maupun suaminya pada masa tersebut. Reaksi seorang ibu pasca melahirkan memiliki dampak pada sikap, perilaku, dan tingkat emosinya. Stres psikologis pascapersalinan adalah gejala emosional, seperti seseorang merasa tertekan, tidak dapat tidur, kelelahan fisik yang berlebihan, atau tidak yakin apa yang harus dilakukan dalam peran barunya. Evaluasi terhadap ibu dari sudut pandang psikologis menjadi dasar apakah ibu siap menghadapi peran baru. Wanita, khususnya yang baru pertama kali melahirkan (primipara), merasa tuntutan menjadi ibu semakin bertambah karena kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi. Secara teoritis, setelah melahirkan (nifas), wanita mengalami gangguan psikis (mother blues) yang dipengaruhi oleh perubahan hormonal. Setelah melahirkan, terjadi perubahan pada adaptasi fisiologis ibu, termasuk involusi uterus, proses laktasi, dan perubahan hormonal dalam sistem reproduksi.Pasca melahirkan, ibu mengalami perubahan penyesuaian psikologis, antara lain, perasaan takut dan cemas sehingga membuat ibu menjadi lebih sensitive terhadap factor situasional dibandingkan biasanya.
Kelahiran seorang anak dikaitkan dengan kebahagiaan dan cinta dan dapat disertai, misalnya, dengan munculnya tuntutan profesional yang tinggi, kebingungan dalam berganti peran, dll. Oleh karena itu, perubahan peran orang tua memerlukan dukungan sosial dan efikasi diri dari ibu pasca melahirkan untuk mempengaruhi kualitas hidupnya. Seorang wanita harus beradaptasi secara fisik dan psikologis dengan Setelah melahirkan, ibu mengalami transformasi dalam aktivitas dan perannya pada minggu atau bulan pertama. Perubahan fisiologis melibatkan sistem reproduksi, pencernaan, kardiovaskular, saluran kemih, muskuloskeletal, dan endokrin, termasuk hormon seperti prolaktin dan prostaglandin yang mempengaruhi produksi ASI. Secara psikologis, terdapat penyesuaian dalam fase taking in, taking hold, dan taking go. Beberapa wanita mengatasi perubahan ini dengan baik, sementara yang lain tidak dan menderita gangguan psikis., begitu pula yang dialami oleh Ny. D.
Kecemasan yang di alami oleh Ny. D merupakan hal yang umum terjadi, apalagi oleh ibu primipara. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada Ny. D adalah terlalu overthinking terhadap segala sesuatu yang belum ada kejelasannya, hal ini dibuktikan dengan penilaian DASS 42 yang menunjukkan hasil bahwa Ny.D masuk dalam kategor kecemasan skala ringan. Beberapa penelitian mengatakan ada beberapa factor yang mempengaruhi tingkat kecemasan baik dari dalam maupun luar individu. Salah satu faktor yang mempengaruhi individu adalah perubahan hormonal. Kehamilan meningkatkan hormon estrogen dan progesteron dari plasenta dan mempengaruhi hormon tersebut. Kadar estrogen dan progesteron meningkat akibat lepasnya plasenta saat melahirkan. Karena pengaruh plasenta selama kelahiran, kadar estrogen dan progesteron turun dengan cepat ke tingkat sebelum hamil sejak hari kelima setelah kelahiran. Selain perubahan hormonal, cara melahirkan juga menjadi faktor eksternal lain yang dapat menimbulkan kecemasan pasca melahirkan. Begitu pun ada beberapa factor menurunnya tingkat kecemasan yang di rasakan oleh Ny. D adalah mulai mengurangi penggunaan sosial media dan fokus dalam perawatan bayi. Terlebih lagi keputusan ini juga berdampak positif terhadap keadaaan/psikis Ny.D, mengatakan bahwa kecemasan yang di alami mulai menurun.
Ny. D merupakan ibu primipara yang mengalami kecemasan pasca persalinan/ postpartum, factor yang mempengaruhi terjadinya kecemasan pada Ny.D adalah terlalu overthinking terhadap suatu hal yang belum ada kejelasannya, ketidakmampuan Ny.D untuk menerima keadaan bayi yang membutuhkan perawatan khusus selama beberapa minggu pertama kehidupannya. Ada juga cara yang dapat mengurangi rasa kecemasan adalah mengurangi penggunaan media sosial dan mulai fokus terhadap perawatan bayi, selain itu pula dukungan keluarga mempunyai dampak yang signifikan terhadap tingkat kecemasan.
Ucapan Terima Kasih:
Terimakasi terhadap klien Ny.D yang telah memberikan izin untuk mendata dan mengkaji kondisi psikologi nya untuk dijadikan kasus yang di uji dalam study kasus ini.
D. Taviyanda, "Adaptasi Psikologis pada Ibu Post Partum Primigravida (Fase Taking Hold) Sectio Caesarea dan Partus Normal," Jurnal Ilmu Kebidanan, vol. 5, no. 1, pp. 76–82, Jan. 2019.
M. Fahriani, D. A. Ningsih, A. Kurnia, and V. S. Mutiara, "The Process of Uterine Involution with Postpartum Exercise of Maternal Postpartum," Jurnal Kebidanan, vol. 10, no. 1, pp. 48–53, Apr. 2020.
H. Hastanti, B. Budiono, and N. Febriyana, "Primigravida Memiliki Kecemasan yang Lebih Saat Kehamilan," Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, vol. 3, no. 2, pp. 167–178, Jun. 2021.
W. Desiana and T. Tarsikah, "Screening of Post Partum Depression on the Seventh Day Puerperium," Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, vol. 5, no. 2, pp. 198–208, Apr. 2021.
P. S. Ningrum, "Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Postpartum Blues," Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 205–218, Dec. 2017.
S. Andarwulan and I. Nuraini, "Analisis Adaptasi Psikologis Ibu Nifas," Jurnal Kebidanan, vol. 6, no. 2, pp. 89–96, 2020.
A. M. N. Febriyanti, K. A. P. N. Dewi, and K. Widiantari, "Hubungan Karakteristik Ibu dan Dukungan Suami dengan Resiko Terjadinya Postpartum Blues pada Ibu Postpartum," Jurnal Ilmiah Kesehatan, vol. 9, no. 2, pp. 75–81, Aug. 2021.
N. I. Nababan and I. Sofiyanti, "Perbedaan Psikologis Ibu Nifas Primipara dan Multipara di Puskesmas Cilamaya Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang Jawa Barat Tahun 2021," Journal of Holistics and Health Sciences, vol. 4, no. 2, pp. 202–208, Sep. 2022.
Syahrianti, W. O. F. Wa Ode, Askrening, and D. Yanthi, "Hubungan Pengetahuan dengan Kecemasan Ibu Nifas dalam Merawat Bayi Baru Lahir," Health Information Jurnal Penelitian, vol. 12, no. 2, pp. 214–223, Dec. 2020.
E. Malfasari, Y. Devita, and F. Erlin, "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Tugas Akhir di STIKes Payung Negeri Pekanbaru," Jurnal Ilmiah Keperawatan, vol. 4, no. 1, pp. 32–41, 2018.
A. L. Istiqomah, N. Viandika, and S. M. K. Nisa, "Description of the Level of Anxiety in Post Partum," Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, vol. 5, no. 4, pp. 333–339, Oct. 2021.
S. Nova and S. Zagoto, "Faktor Penentu Kecemasan Ibu Postpartum," Al-Insyirah Midwifery: Jurnal Ilmu Kebidanan, vol. 9, no. 2, pp. 45–54, 2020.
Y. Kirana, "Hubungan Tingkat Kecemasan Post Partum dengan Kejadian Post Partum Blues di Rumah Sakit Dustira Cimahi," Jurnal Ilmu Keperawatan, vol. 3, no. 1, pp. 25–57, Apr. 2015.
N. Vijayanti, L. Isro’in, and S. Munawaroh, "Studi Fenomenologi Adaptasi Psikologis Ibu Primipara Masa Nifas," Universitas Muhammadiyah Ponorogo Health Sciences Journal, vol. 3, no. 2, pp. 15–24, 2019.
D. Endah, "Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian Postpartum Blues," Jurnal Ilmiah Kebidanan, vol. 7, no. 1, pp. 62–71, 2018.