Login
Section Articles

Dual Modality Acupressure and Thermotherapy for Menstrual Pain Mitigation in Junior High Students

Terapi Akupresur dan Termoterapi Ganda untuk Meredakan Nyeri Haid pada Siswa Sekolah Menengah Pertama
Vol. 3 No. 1 (2026): July:

Evi Rinata (1), Vindiah Dwi W (2)

(1) Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Dysmenorrhea represents a highly prevalent gynecological condition among adolescent females globally, commonly driven by progesterone imbalances that induce painful uterine cramps. Specific Background Secondary school students frequently experience severe menstrual pain that interferes with daily school attendance and regular academic performance. Knowledge Gap Although separate non-pharmacological methods exist, the comparative performance of combined reflexology and thermal protocols remains under-explored in localized school environments. Aims This study evaluates the management of dysmenorrhea using integrated acupressure at SP6 and LV3 points alongside warm compresses among junior high respondents. Results Quantitative analysis of 33 participants revealed that combined therapy significantly decreased visual analogue scale scores ($p = 0.000$) compared to single acupressure or control groups. Novelty The evaluation demonstrates that dual-modality alternative care yields a more substantial physiological decline in pain intensity than isolated acupressure interventions. Implications School health services should adopt integrated non-pharmacological interventions as safe, accessible alternatives to conventional analgesic medications.


Keyword: Sdysmenorrhea, Acupressure, Warm Compresses, Menstrual Pain, Adolescent Health


Key Findings Highlights


Visual analogue scale records reveal optimal pain reduction when combining meridian stimulation with deep tissue thermotherapy.


Isolated acupressure targeting specific regional channels induces secondary relief compared to multi-modality approaches.


Untreated control groups demonstrate an upward trajectory in menstrual distress during active observation cycles.

Pendahuluan

Masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu dimana terjadi perubahan fisik dan fungsi fisiologis pada organ reproduksi remaja putri yang ditandai dengan terjadinya menarche (menstruasi pertama) . Menstruasi merupakan peristiwa fisiologis dimana kondisi tersebut disebabkan karena lapisan endometrium uterus yang terlepas pada dinding rahim. Kebanyakan remaja putri mengalami tingkat nyeri yang bervariasi, dismenore (nyeri haid) merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormone progesterone dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri pada perut [1]

Dismenore terbagi menjadi dua yakni dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer merupakan nyeri saat menstruasi dengan anatomi panggul normal, sedangkan dismenore sekunder merupakan nyeri menstruasi yang ditandai dengan adanya kelainan patologis [2]. Dismenore primer sering terjadi pada usia remaja dengan keluhan nyeri, seperti kram yang lokasinya berada di tengah bawah rahim. Dismenore memiliki berbagai macam gejala seperti nyeri perut yang timbul sebelum atau selama menstruasi, pusing kepala, mual, muntah. Seringkali remaja putri meninggalkan aktivitasnya dan tidak melakukan penanganan ataupun pengobatan, remaja putri cenderung membiarkannya[3].

Beberapa dampak lain dari dimenore primer maupun sekunder diantaranya adalah terganggunya pola aktivitas sehari-hari serta dapat menimbulkan kecemasan berlebih yang akan mempengaruhi terjadinya penurunan kecaakapan dan keterampilan remaja putri yang akan sangat berdampak terhadap penurunaan aktifitas sekolah dan prestasi. Dan dampak yang paling fatal bila tidak segera ditangani yakni dapat menyebabkan kemandulan (infertilitas) dan gangguan seksual pada kejadian dismenore primer [4]

Secara umum penanganan dismenore dapat ditangani dengan pemberian terapi farmakologi dan non farmakologi. Pada pemberian terapi farmakologi biasanya diberikan obat-obatan anti inflamasi non-steroid atau (NSAID) seperti asam mefenamat, ibuprofen, piroxicam dan lain-lain [5] .Obat-obatan ini dapat membantu meredakan nyeri secara langsung dan cepat, akan tetapi keterkaitan dengan efek samping yang menyebabkan ketergantungan obat. Sedangkan penanganan dengan non farmakologi dimana menggunakan cara mudah dan tradisional dengan efek samping yang ringan ataupun tanpa efek samping yang dapat dilakukan dengan olahraga ringan, teknik relaksasi (akupresur), dan kompres hangat.

Akupresure dikenal dengan teknik tusuk jari ataupun totok yang merupakan metode terapi tradisional china untuk penanganan dismenore dengan memijat pada titik meridian bagian tubuh tertentu[6]. Salah satu akupresur yang digunakan untuk penanganan dismenore adalah titik SP6 (sanyinjiao). Titik SP6 merupakan titik yang digunakan untuk menguatkan limpa, memulihkan keseimbangan Yin dan Yang, ginjal, hati, darah serta dapat melancarkan suplai darah dan juga peredarannya. Akupresur memiliki manfaat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit, rehabilitasi atau pemulihan, serta mampu meningkatkan daya tahan tubuh[7].

Titik Sanyinjiao atau Spleen 6 merupakan titik limpa yang dimana salah satu fungsi limpa adalah mengurangi dismenore dan titik LV3 merupakan titik saluran hati dimana titik ini menobati sakit kepala, menyeimbangkan energi emosional, mengatur menstruasi. Untuk pencegahan dismenore dapat dilakukan dengan memberikan pijatan yang dilakukan searah jarum jam sebanyak 30 putaran selama kurang lebih tiga sampai lima menit. Dalam teknik pemijatan ini yang perlu diperhatikan adalah tidak terlalu keras dan menyakiti. Sehingga harus dilakukan dengan pemijata yang benar yakni harus dapat menciptakan sensasi rasa seperti nyaman, pegal, panas, gatal, kesemutan, perih dan lai-lain. Apabila sensasi rasa dapat tercapai maka selain di samping sirkulasi energy dan darah lancar, juga dapat merangsang keluarnya hormone endomorfin. Hormone ini adalah sejenis morfin yang dihasilkan dari dalam tubuh untuk memberikan rasa tenang[8].

Selain menggunakan teknik pemijatan, kompres hangat juga dapat dijadikan salah satu alternative pengobatan untuk penurunan dismenore pada remaja putri. Terapi dengan kompres hangat adalah terapi yang sederhana bagi remaja putri yang mengalami dismenore. Penggunaan kompres hangat dapat meningkatkan relaksasi otot-otot dan mengurangi nyeri akibat kekakuan serta memberikan sensasi rasa hangat pada bagian perut[9].

Efek hangat dari kompres hangat dapat menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah yang akan meningkatkan aliran darah ke jaringan. Penyaluran zat asam dan makanan ke sel-sel diperbesar serta pembuangan dari zat-zat diperbaiki karena dapat mengurangi rasa nyeri dismenore yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke endometrium. Karena suhu yang hangat dapat memperlancar sirkulasi darah, vaaskularisasi lancar dan terjadinya vasodilatasi yang membuat otot menjadi rileks karena otot medapatkan nutrisi berlebih yang dibawa oleh darah sehingga kekakuan otot menjadi menurun. Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah pelunakan pada jaringan fibrosa, membuat otot tubuh menjadi lebih rileks, dapat menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, serta dapat memperlancar aliran darah [10].

Menurut World Health Organization (WHO) angka kejadian dismenore masih cukup tinggi di seluruh dunia. Di Indonesia, menurut Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) angka kejadian dismenore primer sebesar 72,89% dan dismenore sekunder sebanyak 27,11%. Di Jawa Timur angka kejadian dismenore sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% mengalami dismenore primer dan 9,36% mengalami dismenore sekunder. Prevalensi dismenore di Indonesia sebesar 107.673 jiwa (64,25%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami dismenore primer dan 9.496 jiwa (9,36%) mengalami dismenore sekunder [6]. Angka kejadian dismenore pada kalangan wanita usia produktif berkisar 45% - 95%. Dilaporkan 30% - 60% remaja putri yang mengalami dismenore didapatkan 7% - 15% tidak pergi ke sekolah [11].

Berdasarkan hasil survey di SMP Muhammadiyah 6 Krian Sidoarjo terdapat 50 siswi putri yang mengalami dismenore selama ini belum ada sosialisasi atau pelatihan tentang akupresur dan terapi komplementer lainnya, masih banyak kasus dismenore pada remaja putri dan kebanyakan remaja putri yang mengalami dismenore mengatasinya dengan istirahat. Bahkan masih banyak remaja putri yang mengabaikan masalah dismenore dan tidak melakukan penanganan apapun. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada efektivitas akupresur dan kompres hangat terhadap penurunan dismenore pada remaja.

Metode

Penelitian ini termasuk jenis kuantitatif yang menggunakan desain Quasy-Eksperiment dengan pendekatan Two Group Pretest-Posttest. Desain ini digunakan sesuai dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas terapi akupresur dan kompres hangat terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore dari sebelum dan sesudah diberi perlakuan akupresur dan kompres hangat. Dimana kedua kelompok diberikan perlakuan yang berbeda. Tempat penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 6 Krian Sidoarjo. Pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik Random Sampling dan jumlah sampel sebanyak 33 responden yang terdiri dari 11 responden kelompok akupresur, 11 responden kelompok kombinasi dan 11 responden kelompok kontrol dimana tanpa diberikan perlakuan. Pengukuran intensitas nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Responden menilai dengan menggunakan skala 1-10 sebelum dan sesudah perlakuan.

Pada kelompok akupresur peneliti melakukan terapi akupresur pada titik SP6 dan LV3 dilakukan selama satu hari dengan pemijatan searah jarum jam sebanyak 30 putaran masing-masing titik 5 menit. Pada kelompok kombinasi akupresur dan kompres hangat cara untuk penetuan temperatur air panas dapat menggunakan tangan atau siku, dengan cara mendiamkan siku selama 5-10 detik di air untuk memperoleh suhu kasar air. Jika air terasa agak hangat, tetapi tidak panas artinya air bersuhu sekitar 380C.

Figure 1.

Figure 2.

2.1 Gambar lokasi titik SP62.2 Gambar lokasi titik LV3

Gambar 2.1 Titik Sanyinjiao (SP6) merupakan titik meridian yang berhubungan dengan organ limpa, hati dan ginjal. Titik ini berada 4 jari diatas mata kaki/ malleolus internus [12]. Gambar 2.2 Titik Daichong (LV3) merupakan titik meridian liver. Titik ini terletak diantara jari kaki jempol dan telunjuk [13].

Pengambilan data penelitian ini dilakukan selama satu minggu yang dimulai dari tanggal 26 Juli 2023 – 2 Agustus 2023, pengumpulan data diambil menggunakan instrumen berupa, kuisioner pengukuran intensitas nyeri VAS (Visual Analogue Scale) sebelum dan setelah perlakuan. Analisis data menggunakan analisis univariat berupa uji T test untuk melihat rata-rata distribusi karakteristik responden dan analisis bivariat yang menggunakan uji One Ways Anova untuk menguji rata-rata pengaruh dari perlakuan. Dengan nilai p value ɑ= 0,05 jika > 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak jika

<0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak

Hasil dan Pembahasan

Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu data umum yang berupa karateristik responden dan data khusus yang berupa analisis tingkat penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah perlakuan.

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden

Karakter Frekuensi % Total
Usia
12-14 thn 14 42 33
<14 thn 19 58 (100%)
Kelas8 SMP 14 42 33
9 SMP 19 58 (100%)
Usia Manarche<12 thn 18 54 33
>12 thn 15 46 (100%)
SiklusMenstruasi<7 hari 17 51 33
>7 hari 16 49 (100%)
Lokasi Nyeri
Bawah perut 9 27
Punggung Bawah 9 27 33
Panggul 7 21 (100%)
Kepala 8 25
Table 1.

Tabel 3.1 menunjukkan bahwa dari usia remaja putri lebih banyak yang berada di usia 14 tahun ke atas dengan selisih (16%). Tingkatan kelas pada responden ini menunjukkan lebih dari setengah bagian (58%) yaitu kelas 9 SMP. Usia manarche yang dialami remaja putri lebih dari setangah bagian (54%) yaitu < 12 tahun. Siklus yang dialami remaja putri ketika mentruasi lebih banyak berada di siklus < 7 hari selisih (1%). Sedangkan lokasi nyeri pada saat menstruasi lebih banyak terjadi dibagian tubuh bawah perut dan punggung bawah dengan frekuensi 9 (27%).s

Tabel 2. Distribusi frekuensi rata-rata tingkat nyeri dismenore

karakteristikAkupresur SP6 danLV3Mean ± SD Kombinasi Akupresur dan Kompres hangatMean ± SD KontrolMean ± SD
Tingkat Nyeri8,64 ± 0,809 8,18 ± 0,982 7,91 ± 0,831
Table 2.

Tabel 3. Pengaruh terapi akupresur dan kompres hangat terhadap nyeri dismenore pada remaja putri

Kelompok Tingkat Nyeri Penurunan Tingkat Nyeri P*
Pretest(Mean ±Sd) Posttest(Mean ±Sd)
Akupresure 8,63 ± 0,809 4,00 ± 0,632 4,63 ± 0,02
Kombinasi Akupresur dan Kompres hangat 8,18 ± 0,982 3,45 ± 0,522 4,72 ± 0,01 0,00
Kontrol 7,91 ± 0,831 8,81 ± 0,750 -0,909 ± 0,081
Table 3.

Tabel 3.1 Menampilkan hasil uji statistik rata-rata penurunan tingkat nyeri kelompok akupresur 4,63 ± 0,02. Kemudian pada kelompok kombinasi rata-rata penurunan tingkat nyeri 4,72 ± 0,01. Dan pada kelompok kontrol rata-rata penurunan tingkat nyeri -0,909 ± 0,081. Dari Uji One Way Anova didapatkan hasil p value 0,00 <0,05 yang artinya ada pengaruh yang signifikan pada perlakuan yang diberikan.

Figure 3.

Gambar 3.1 Grafik Penurunan tingkat Nyeri

Berdasarkan gambar 3.1 terlihat bahwa terdapat perbedaan penurunan tingkat nyeri dismenore pada kelompok yang diberikan akupresur, kombinasi akupresur dan kompres hangat dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberikan perlakuan. Penurunan tingkat nyeri dismenore paling banyak terdapat pada kelompok yang diberikan kombinasi akupresur dan kompres hangat.

Pembahasan

Skala nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri yang dirasakan responden, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pada angka 1-3 (Nyeri Ringan) dimana responden dapat berkomunikasi dengan baik, 4-6 (Nyeri Sedang) dimana responden mendesis, dapat menunjukkan lokasi nyeri dan dapat mengikuti perintah dengan baik, 7-9 (Nyeri Berat) demana secara objektif responden terkadang tidak dapat mengikuti perintah tetapi masih respon terhadap tindakan, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi, 10 (Nyeri Sangat Berat) dimana responden sudah tidak mampu lagi.

Pengobatan nonfarmakologi yang digunakan untuk mengatasi nyeri dismenore dapat dikatakan sebagai salah satu pengobatan alternatif yang memberikan efek gastrointestinal [14]. Akupresur merupakan salah satu pengobatan nonfarmakologi yang dilakukan menggunakan jari atau benda tumpul dengan teknik penekanan pada titik-titik tertentu. Akupresur pada titik-titik tertentu bertujuan untuk menurunkan nyeri, merelaksasikan tubuh, serta mengatasi masalah kesehatan dan untuk kebugaran tubuh [15].

Hasil tersebut sejalan dengan penelitian oleh (S.Otham, 2019) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nyeri dismenore antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dan menyatakan bahwa terapi komplementer akupresur merupakan terapi yang efektif dapat mengurangi nyeri dismenore tanpa menimbulkan efek samping. Cara kerja dari terapi akupresur untuk menurunkan nyeri dismenore dengan membangkitkan sistem opoid endogen, penambahan pengeluaran hormon endorphin yang membuat tubuh menjadi rileks dan dapat mengambalikan keseimbangan energi pada tubuh[16].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Nisrawati, 2023) menunjukkan bahwa terapi akupresur sanyinjiao (SP6) lebih signifikan dalam pengurangan nyeri haid dismenore dibandingkan dengan aromaterapi lavender. [17]

Penelitian yang dilakuakn oleh (Galih, 2022), menunjukkan bahwa terapi akupresur pada titik SP6 terbukti efektif untuk menurunkan intensitas nyeri dismenore tanpa adanya efek samping. Dimana nyeri yang biasanya terjadi diakibatkan oleh endometrium dalam fase sekresinya yang mensekresikan hormon prostaglandin dalam jumlah banyak. Maka pada mekanisme kerja akupresur ini dalam menurunkan nyeri dismenore dengan mempekerjakan sistem opoid endogen untuk

peningkatan pengeluaran hormon endorphin yang dapat membuat tubuh menjadi relaks dan dapat mengembalikan keseimbangan energi dalam tubuh.[18]

Hasil penelitian didapatkan sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa dengan memperkuat pasokan darah dan memperlancar peredaran darah, dengan demikian akupresur pada titik LI4, SP6, B27-B34, dan LR3-LV3 dapat mengurangi rasa nyeri pada saat mentruasi. Efek penekanan di titik akupresur yang berkaitan dengan produksi hormon endorphin dalam tubuh. Dimana hormon endorphin ini merupakan hormon pembunuh rasa nyeri yang dihasilkan sendiri oleh tubuh. Pelepasan hormon endorphin dikontrol oleh sistem saraf. Saraf sangat sensitif dengan nyeri rangsangan dari luar yang dapat dipicu dengan menggunakan akupresur akan menginstruksikan sistem endokrin untuk melepaskan sejumlah hormon endorphin sesuai dengan kebutuhan tubuh. [19]

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Mastaida, 2022) menunjukkan bahwa siswa putri SMK Negri 8 Padang Bulan yang tidak melakukan terapi kompres hangat mengalami nyeri dismenore sebanyak 22 orang (61,1%), sedangkan yang melakukan terapi kompres hangat tidak mengalami dismenore yaitu sebanyak 14 orang (38,2%) dengan nilai p value 0,001 < 0,05 yang artinya ada hubungan terapi kompres hangat dengan penurunan intensitas nyeri dismenore pada remaja. [20]

Penelitian yang dilakukan oleh (Dhirah, 2019) menyebutkan bahwa penggunaan kompres hangat dapat membuat aliran darah lancar, vaskularisasi lancar dan terjadi vasodilatasi yang membuat otot menjadi relaks karena nutrisi yang dibawa darah berlebihan sehingga membuat kontraksi otot menurun. Kompres hangat mengakibatkan terjadinya pelebaran didaerah simphisis pubis yang dapat membuka aliran darah membuat sirkulasi darah lancar kembali sehingga otot menjadi relaks dan kontraksi otot menurun. [21]

Kesimpulan

Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa ada penurunan tingkat nyeri dismenore pada remaja putri sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada kelompok akupresur saja dan kelompok kombinasi akupresur dengan kompres hangat. Disarankan dicoba dengan alat yang lain seperti menggunakan hot pack. Kelemahan pada penilitian ini suhu tidak diukur dengan tepat.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kepada Bapak Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 6 Krian Bapak Muhammad Taufiqqurrohman yang telah memberikan izin peneliti untuk melakukan penelitian di SMP Muhammadiyah 6 Krian, Kabupaten Sidoarjo, dan Terimakasih kepada Bapak Burhan Abdillah, S.Pd yang telah memfasilitasi peneliti dari waktu, tempat dan lainnya dalam penelelitian ini. Serta terimakasih kepada Yeni Mahasiswa Kebidanan semester 4 yang telah membantu dalam melakukan penelitian.

References

A. F. F. Nurwana and Y. Sabilu, "Jurnal Dismenore WHO," Jimkesmas: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, vol. 2, no. 6, pp. 1–14, 2018.

T. A. Larasati and F. Alatas, "Dismenore Primer dan Faktor Risiko Dismenore Primer pada Remaja," Majority, vol. 5, no. 3, pp. 79–84, 2016.

P. A. D. Lestari, "Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenorea Pada Siswi SMA Negeri 2 Kendari Tahun 2017," Poltekkes Kemenkes Kendari, Kendari, Indonesia, Tech. Rep., 2017.

A. G. Dzia, "Akupresur Untuk Dismenore: Study Literature Review," Universitas Muhammadiyah Magelang, Magelang, Indonesia, Tech. Rep., 2021.

H. Khotimah and S. S. Lintang, "Terapi Non-Farmakologi untuk Mengatasi Nyeri Dismenore pada Remaja," Faletehan Health Journal, vol. 9, no. 3, pp. 343–352, 2022.

A. P. Sari and A. Usman, "Efektifitas Terapi Acupresur Terhadap Dismenore pada Remaja," Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, vol. 17, no. 2, pp. 196–202, 2021.

N. E. R. Ningsih, "Aplikasi Akupresure Untuk Mengatasi Dismenore Pada Remaja," Universitas Muhammadiyah Magelang, Magelang, Indonesia, Tech. Rep., 2019.

T. Indrayani, V. Astiza, and R. Widowati, "Pengaruh Akupresur Terhadap Intensitas Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri Di Wilayah RW.03 Kelurahan Margahayu Utara Kecamatan Babakan Ciparay Kota Bandung," Journal for Quality in Women's Health, vol. 4, no. 1, pp. 94–103, 2021.

A. T. Prianti, "Pengaruh Kompres Panas Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenorea Primer pada Mahasiswi Universitas Megarezky," in Sains: Seminar Nasional Penelitian, Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Timur, Makassar, Indonesia, 2019, pp. 4–12.

R. M. Nida and D. S. Sari, "Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Siswi Kelas XI SMK Muhammadiyah Watukelir Sukoharjo," Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional, vol. 1, no. 2, pp. 103–109, 2016.

N. Nurwana, "Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Disminorea Pada Remaja Putri Di SMA Negeri 8 Kendari Tahun 2016," Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Unsyiah, vol. 2, no. 6, p. 185630, 2019.

J. K. Tyas, A. A. Ina, and P. Tjondronegoro, "Pengaruh Terapi Akupresur Titik Sanyinjiao Terhadap Skala Dismenore," Jurnal Kesehatan, vol. 7, no. 1, p. 1, 2018.

F. Isni, E. Salafas, and L. Suryani, "Akupresure dan Yoga untuk Mengurangi Nyeri Haid (Disminore) pada Remaja Putri," Jurnal Ilmiah Kebidanan, vol. 2, no. 1, pp. 87–96, 2023.

S. Navvabi Rigi et al., "Comparing the Analgesic Effect of Heat Patch Containing Iron Chip and Ibuprofen for Primary Dysmenorrhea: A Randomized Controlled Trial," BMC Women's Health, vol. 12, no. 1, p. 25, 2012.

I. D. Revianti and A. Yanto, "Teknik Akupresur Titik Hegu (LI4) Menurunkan Intensitas Nyeri Dismenore Pada Remaja," Holistic Nursing Care Approach, vol. 1, no. 1, p. 39, 2021.

S. Othman, S. Aly, and M. Mady, "Effect of Acupressure on Dysmenorrhea Among Adolescents," Journal of Medical Science Research, vol. 2, no. 1, p. 24, 2019.

N. P. Ningrum and N. Hidayatunnikmah, "Efektifitas Terapi Akupresur Sanyinjiao Dan Pemberian Terapi Lavender Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Primer Pada Remaja Putri Di SMA Negeri 2 Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah," Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 11, no. 2, pp. 3058–3070, 2023.

G. Jatnika, A. Badrujamaludin, and Y. Yuswandi, "Pengaruh Terapi Akupresur Terhadap Intensitas Nyeri Dismenore," Holistik Jurnal Kesehatan, vol. 16, no. 3, pp. 263–269, 2022.

Suriani and Yunita, "Pengaruh Terapi Akupresur Terhadap Derajat Premenstrual Syndrom Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 3 Makassar," Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, vol. 7, no. 4, pp. 115–122, 2022.

M. Tambun and M. Sinaga, "Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Dismenore Saat Menstruasi pada Siswa Puteri Kelas XI SMK N. 8," Sehatmas: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, vol. 1, no. 3, pp. 363–372, 2022.

U. H. Dhirah and A. N. Sutami, "Efektifitas Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Intensitas Dismenorea Pada Remaja Putri Di SMAS Inshafuddin Banda Aceh," Jurnal Healthcare Technology and Medicine, vol. 5, no. 2, p. 270, 2019.